Minggu, 30 Oktober 2016

Waspadai Anak Obesitas

Anak gemuk memang terlihat lucu dan menggemaskan, tapi ia belum tentu sehat. Dari sisi medis, anak dengan kelebihan berat badan (overweight), apalagi sampai kegemukan (obesitas), perlu diwaspadai.

Seorang anak, bernama Arya, usianya baru 10 tahun, namun berat tubuhnya telah mencapai 140 kg. Lalu apa penyebab dari obesitas itu? Apakah pola makan yang salah?
Sungguh kontradiktif melihat pertumbuhan anak-anak di tanah air. Betapa tidak, di satu sisi sejumlah anak-anak terkena busung lapar, namun di kota-kota besar anak-anak mengalami obesitas. Masalah gizi anak memang patut menjadi perhatian.

Busung lapar dan obesitas sama-sama memprihatinkan. Bila busung lapar atau gizi buruk mengancam kematian banyak anak, maka obesitas menyebabkan berbagai penyakit yang mengenaskan seperti jantung, diabetes, gangguan saluran pernafasan, peningkatan kadar kolestrol dan masih banyak lagi.

Menurut dokter Arif Rahmadi, dokter umum RS. Islam Jakarta, obesitas merupakan suatu penyakit. Obesitas ditandai dengan penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan, melebihi batas yang diperlukan untuk fungsi tubuh yang normal, namun tidak semua orang mempunyai berat badan lebih disebut obesitas.

Untuk mengatakan seorang anak mengalami obesitas, di samping mendeteksi gejala klinis, harus juga didukung oleh pemeriksaan antropometri (fisik). Pemeriksaan fisik tersebut antara lain berat badan terhadap tinggi badan; berat badan terhadap umur dan tebalnya lipatan kulit; serta paling sedikit perbandingannya 10% di atas nilai normal.

Obesitas sendiri disebabkan oleh dua faktor, pertama faktor hormonial, biasanya kalau dikeluarganya ada yang menyandang obesitas, maka keturunannya ada kecenderungan obesitas. Tapi faktor ini kecil sekali. Sedangkan faktor kedua adalah faktor idiopatik (nonhormonal) yang belum diketahui penyebabnya.

Secara klinis, obesitas mudah dikenali karena mempunyai tanda dan gejala yang khas, antara lain, wajah membulat, pipi tembem, dagu rangkap, leher relatif pedek, dada mengembung yang mengandung jaringan lemak, perut membuncit dan dinding perut berlipat-lipat.

Jika anak diketahui mengidap obesitas, dr. Arif menyarankan untuk mulai diterapi. Koordinasi antara si anak dengan orang tuanya perlu dilakukan. Anak perlu diajak berolah raga supaya metabolismenya meningkat dan terjadi pembakaran lemak  pada tubuhnya. Pola dietnya juga harus diubah, yakni mengkonsumsi lebih banyak serat, menurangi lemak namun tetap mempertahankan unsur protein.

Kecenderungan obesitas pada anak-anak di kota besar karena life style. Anak-anak kurang beraktivitas di luar rumah, seperti bermain di taman, saat ini anak-anak lebih senang bermain gadget di rumah sambil ngemil coklat, es krim dan makanan berlemak.

Apalagi dengan banyaknya iklan makanan cepat saji dan produk makanan olahan yang membuat pola konsumsi menjadi kurang sehat. Oleh karena itu, sebelum si anak terkena obesitas, sebaiknya dicegah dengan pola makan yang baik dan bergizi seimbang.


Aprina Alia Arafah
Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta

35 komentar:

  1. Wah artikelnya bermanfaat sekali mbak

    BalasHapus
  2. Biasanya anak obesitas awalnya karena pemberian susu formula yg berlebihan ketika bayi sehingga si anak ketergantungan pada susu yg lebih byk gula dibanding asi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa juga mba.. Tapi kalau dipandu dan pola makannya diperhatikan oleh orang tuanya, insyaAllah ngga mbaa :)

      Hapus
  3. semoga anak saya tidak obesitas setelah mengetahui info ini, trims:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. Perhatikan pola makannya ya bu.. Soalnya bahaya dan untuk menurunkan berat badannya juga agak susah

      Hapus
  4. Artikelnya bagus. Menambah wawasan saya. Keep writing aprina!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you mba ayuni.. Semangat juga buat mba ayuni

      Hapus
  5. Iya sih banyak orang tua jama sekarang yang kurang memperhatikan anaknya karena sibuk bekerja, akibatnya, orang tua kurang memperhatikan apa saja yg dikonsumsi anaknya, sang orang tua hanya menyetok makanannya tanpa tahu pola makan anaknya jika dibiarkan dapat membuat kemungkinan sang anak menjadi obesitas, karena makan makanan yg berlebihan tanpa diperhatikan orang tuanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap benar sekali bu, kurang perhatian dari orang tua bisa menyebabkan kurang teraturnya pola makan.. Makasih masukannya buu

      Hapus
  6. Disamping salah karena ulah aktornya, terdapat sisi lainnya yaitu sistem pemerataan gizi yang masih terkesan tumpang tindih sehingga terjadi ketimpangan gizi di sisi lain dan sisi lainnya pun sebaliknya, sehingga aktor akan menganggap sistem telah melakukannya dengan sempurna, inilah yang harus diperhatikan oleh sistem dan aktor, dimana ketika ada sebuah tesis dan antitesis maka sintesis pun akan muncul sebagai hasil dari sebuah masalah, dalam hal ini kerjasama antara sistem dan aktor supaya pemerataan gizi seimbang dan penyakit akan terhindarkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyap benar sekali mas,gizi yg seimbang sangat penting, sehingga anak menjadi sehat, cerdas, dan aktif, bisa terhindar dri penyakit,makasih mas sudah bersedia komen di blog ini

      Hapus
  7. Ada anaknya temen saya yang obesitas juga,dari yang saya liat itu karena orang tua yg terlalu manjain anak, menuruti semua keinginan anak, terutama soal makanan. Si org tua pikir drpd anaknya kelaparan mending dikasih apapun yg anaknya mau, toh dia punya banyak uang. Pola pikir dan perlakuan yg seperti itu bener2 salah dan bisa berdampak continue buat si anak ke depannya. Intinya peran org tua dlm mengasuh anak sangatlah penting dan berpengaruh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, orang tua memang jadi faktor penentu kesehatan sang anak.. Apa lagi klo dibiarkan seperti kasus yg ka cikal beritahu, miris sekali.. Makasih kak sudah menambah informasi untuk blog ini :)

      Hapus
  8. Biasanya orang tua membiasakan anaknya memakan junkfood yang menyebabkan anak menjadi kecanduan terhadap makanan tersebut, semoga adanya artikel ini menjadi bantuan terhadap orang tua yg baru mempunyai anak!

    BalasHapus
  9. Buat pembelajaran saya juga nih punya sepupu gemuk

    BalasHapus
  10. Pola makan sehat anak harus ditanamkan dan diajarkan sejak dini.. Agar anak tidak keterusan makan, bagus sih melihat anak yg napsu makannya tinggi, tetapi orang tua harus membatasi agar anak tersebut tidak terkena obesitas..

    BalasHapus
  11. Wah serem juga ya kalo sampai obesitas, terimakasih artikelnya membantu bgt

    BalasHapus
  12. Wah terimakasih informasinya.

    BalasHapus
  13. Bener banget nih! Orang tua harus mengontrol juga asupan makanan dari anak... nice article aprina 👍

    BalasHapus
  14. Artikel yang sangat bagus, terimakasih mba aprina untuk info kesehatannya..

    BalasHapus
  15. keren mbak artikelnya. sangat bermanfaat:))

    BalasHapus
  16. Bagus dan bermanfaat, terus berkarya mbak

    BalasHapus
  17. Menambah pengetahuan dalam memberikan asupan untuk si kecil nih, thanks ilmu barunya

    BalasHapus
  18. Iya bener mba.. Makanan cepat saji emng kebanyakan bikin ketagihan.. Coba klo misalnya dibiarkan terus menerus, bukannya bahaya obesitas lagi mba, tapi bahan pengawet yg ada di makanan cepat saji numpuk semua di tubuh..

    BalasHapus
  19. Terima kasih informasinya aprina

    BalasHapus
  20. Sangat membantu menambah wawasan saya yang tadi nya belum tahu jadi tahu sekarang :)

    BalasHapus
  21. Baguus aartikelnya, makasih yaaa infonya

    BalasHapus
  22. Bagus sekali artikelnya mbak Apin, trims ya.

    BalasHapus
  23. wah ini dia nih yang jadi masalah selama ini tetangga saya, terimakasih mbak:)

    BalasHapus