Anak gemuk memang terlihat lucu dan menggemaskan, tapi ia
belum tentu sehat. Dari sisi medis, anak dengan kelebihan berat badan (overweight), apalagi sampai kegemukan
(obesitas), perlu diwaspadai.
Seorang anak, bernama Arya, usianya baru 10 tahun, namun berat
tubuhnya telah mencapai 140 kg. Lalu apa penyebab dari obesitas itu? Apakah
pola makan yang salah?
Sungguh kontradiktif melihat pertumbuhan anak-anak di tanah
air. Betapa tidak, di satu sisi sejumlah anak-anak terkena busung lapar, namun
di kota-kota besar anak-anak mengalami obesitas. Masalah gizi anak memang patut
menjadi perhatian.
Busung lapar dan obesitas sama-sama memprihatinkan. Bila
busung lapar atau gizi buruk mengancam kematian banyak anak, maka obesitas
menyebabkan berbagai penyakit yang mengenaskan seperti jantung, diabetes,
gangguan saluran pernafasan, peningkatan kadar kolestrol dan masih banyak lagi.
Menurut dokter Arif Rahmadi,
dokter umum RS. Islam Jakarta, obesitas merupakan suatu penyakit. Obesitas
ditandai dengan penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan, melebihi
batas yang diperlukan untuk fungsi tubuh yang normal, namun tidak semua orang
mempunyai berat badan lebih disebut obesitas.
Untuk mengatakan seorang anak
mengalami obesitas, di samping mendeteksi gejala klinis, harus juga didukung
oleh pemeriksaan antropometri
(fisik). Pemeriksaan fisik tersebut antara lain berat badan terhadap tinggi
badan; berat badan terhadap umur dan tebalnya lipatan kulit; serta paling
sedikit perbandingannya 10% di atas nilai normal.
Obesitas sendiri disebabkan
oleh dua faktor, pertama faktor hormonial, biasanya kalau dikeluarganya ada
yang menyandang obesitas, maka keturunannya ada kecenderungan obesitas. Tapi
faktor ini kecil sekali. Sedangkan faktor kedua adalah faktor idiopatik (nonhormonal) yang belum
diketahui penyebabnya.
Secara klinis, obesitas mudah
dikenali karena mempunyai tanda dan gejala yang khas, antara lain, wajah
membulat, pipi tembem, dagu rangkap, leher relatif pedek, dada mengembung yang
mengandung jaringan lemak, perut membuncit dan dinding perut berlipat-lipat.
Jika anak diketahui mengidap
obesitas, dr. Arif menyarankan untuk mulai diterapi. Koordinasi antara si
anak dengan orang tuanya perlu dilakukan. Anak perlu diajak berolah raga supaya
metabolismenya meningkat dan terjadi pembakaran lemak pada tubuhnya. Pola dietnya juga harus
diubah, yakni mengkonsumsi lebih banyak serat, menurangi lemak namun tetap
mempertahankan unsur protein.
Kecenderungan obesitas pada
anak-anak di kota besar karena life style.
Anak-anak kurang beraktivitas di luar rumah, seperti bermain di taman, saat
ini anak-anak lebih senang bermain gadget
di rumah sambil ngemil coklat, es krim dan makanan berlemak.
Apalagi dengan banyaknya
iklan makanan cepat saji dan produk makanan olahan yang membuat pola konsumsi
menjadi kurang sehat. Oleh karena itu, sebelum si anak terkena obesitas,
sebaiknya dicegah dengan pola makan yang baik dan bergizi seimbang.
Aprina Alia Arafah
Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta
Wah artikelnya bermanfaat sekali mbak
BalasHapusMakasih mbaa.. Alhamdulillah
HapusBiasanya anak obesitas awalnya karena pemberian susu formula yg berlebihan ketika bayi sehingga si anak ketergantungan pada susu yg lebih byk gula dibanding asi
BalasHapusBisa juga mba.. Tapi kalau dipandu dan pola makannya diperhatikan oleh orang tuanya, insyaAllah ngga mbaa :)
Hapussemoga anak saya tidak obesitas setelah mengetahui info ini, trims:)
BalasHapusAamiin.. Perhatikan pola makannya ya bu.. Soalnya bahaya dan untuk menurunkan berat badannya juga agak susah
HapusArtikelnya bagus. Menambah wawasan saya. Keep writing aprina!
BalasHapusThank you mba ayuni.. Semangat juga buat mba ayuni
HapusIya sih banyak orang tua jama sekarang yang kurang memperhatikan anaknya karena sibuk bekerja, akibatnya, orang tua kurang memperhatikan apa saja yg dikonsumsi anaknya, sang orang tua hanya menyetok makanannya tanpa tahu pola makan anaknya jika dibiarkan dapat membuat kemungkinan sang anak menjadi obesitas, karena makan makanan yg berlebihan tanpa diperhatikan orang tuanya
BalasHapusYap benar sekali bu, kurang perhatian dari orang tua bisa menyebabkan kurang teraturnya pola makan.. Makasih masukannya buu
HapusDisamping salah karena ulah aktornya, terdapat sisi lainnya yaitu sistem pemerataan gizi yang masih terkesan tumpang tindih sehingga terjadi ketimpangan gizi di sisi lain dan sisi lainnya pun sebaliknya, sehingga aktor akan menganggap sistem telah melakukannya dengan sempurna, inilah yang harus diperhatikan oleh sistem dan aktor, dimana ketika ada sebuah tesis dan antitesis maka sintesis pun akan muncul sebagai hasil dari sebuah masalah, dalam hal ini kerjasama antara sistem dan aktor supaya pemerataan gizi seimbang dan penyakit akan terhindarkan.
BalasHapusIyap benar sekali mas,gizi yg seimbang sangat penting, sehingga anak menjadi sehat, cerdas, dan aktif, bisa terhindar dri penyakit,makasih mas sudah bersedia komen di blog ini
HapusAda anaknya temen saya yang obesitas juga,dari yang saya liat itu karena orang tua yg terlalu manjain anak, menuruti semua keinginan anak, terutama soal makanan. Si org tua pikir drpd anaknya kelaparan mending dikasih apapun yg anaknya mau, toh dia punya banyak uang. Pola pikir dan perlakuan yg seperti itu bener2 salah dan bisa berdampak continue buat si anak ke depannya. Intinya peran org tua dlm mengasuh anak sangatlah penting dan berpengaruh.
BalasHapusIya kak, orang tua memang jadi faktor penentu kesehatan sang anak.. Apa lagi klo dibiarkan seperti kasus yg ka cikal beritahu, miris sekali.. Makasih kak sudah menambah informasi untuk blog ini :)
HapusBiasanya orang tua membiasakan anaknya memakan junkfood yang menyebabkan anak menjadi kecanduan terhadap makanan tersebut, semoga adanya artikel ini menjadi bantuan terhadap orang tua yg baru mempunyai anak!
BalasHapusBermanfaat artikelnya 👍
BalasHapusBuat pembelajaran saya juga nih punya sepupu gemuk
BalasHapusPola makan sehat anak harus ditanamkan dan diajarkan sejak dini.. Agar anak tidak keterusan makan, bagus sih melihat anak yg napsu makannya tinggi, tetapi orang tua harus membatasi agar anak tersebut tidak terkena obesitas..
BalasHapusWah serem juga ya kalo sampai obesitas, terimakasih artikelnya membantu bgt
BalasHapusWah terimakasih informasinya.
BalasHapusBener banget nih! Orang tua harus mengontrol juga asupan makanan dari anak... nice article aprina 👍
BalasHapusArtikel yang sangat bagus, terimakasih mba aprina untuk info kesehatannya..
BalasHapuskeren mbak artikelnya. sangat bermanfaat:))
BalasHapusBermanfaat banget!!
BalasHapusBagus dan bermanfaat, terus berkarya mbak
BalasHapusMenambah pengetahuan dalam memberikan asupan untuk si kecil nih, thanks ilmu barunya
BalasHapusIya bener mba.. Makanan cepat saji emng kebanyakan bikin ketagihan.. Coba klo misalnya dibiarkan terus menerus, bukannya bahaya obesitas lagi mba, tapi bahan pengawet yg ada di makanan cepat saji numpuk semua di tubuh..
BalasHapusTerima kasih informasinya aprina
BalasHapusSangat membantu menambah wawasan saya yang tadi nya belum tahu jadi tahu sekarang :)
BalasHapusMantaps 👍
BalasHapusBaguus aartikelnya, makasih yaaa infonya
BalasHapusBagus sekali artikelnya mbak Apin, trims ya.
BalasHapusTerima kasih mbak atas infonya hehe
BalasHapuswah ini dia nih yang jadi masalah selama ini tetangga saya, terimakasih mbak:)
BalasHapusBagus
BalasHapus